Lautan Nikmat
Dua makhluk berpisah
Yang satu tenggelam yang lain menyelam
Kau tau apa bedanya?
Di lautan nikmat, seringkali kita tenggelam. Tanpa pelita penerang. Tanpa sinaran cahaya yang membuat kita menatap lekat keindahan, keunikan, keajaiban, dan panorama hidup. Bahkan tanpa alat pernafasan yang membuat kita megap-megap mengutuki air terminum yang rasanya pahit-pahit asin.
Pada selaman nikat, kita benar-benar harus menyertakan alat-alat pendukung yang berkualitas tinggi. Menikmati panorama, mata ini harus terbuka dengan kacamata terindah yang dipilihkan oleh Allah dan RasulNya. Memandangi lukisan alam, kita perlu pencahayaan sempurna dari karuniaNya. Kita baru benar-benar menjadi penikmat, ketika kita bersama ayat-ayat yang terang, beranjak dari kegelapan menuju cahaya, dan di sanalah kasih sayangNya dirasa.
Agar Bidadari Cemburu Padamu
2004
Kadang kenikmatan bisa membuat seseorang lemah dan terlena. Sehingga dengan mudah tenggelam dalam kenikmatan dunianya, dengan mudah melupakan tujuannya. Namun, tak jarang pula seseorang terlalu tenggelam dalam kesulitan dan permasalahan dunianya. Tak bisa menggunakan indahnya penciptaan atas dirinya, tertutup oleh satu rasa yang dianggap pahit dan sudah pasti terpatri. Jadilah muslimah yang senantiasa bersyukur atas karuniaNya. Dalam lapang maupun sempit, dalam susah maupun senang, dalam nikmat maupun rahmat. Menyelamlah untuk melihat indahnya ciptaanNya. Ada satu pelajaran, proses pendewasaan serta nikmat yang telah disiapkan untuk kita. Tak ada yang sia-sia apa yang telah Dia ciptakan untuk hamba-hambaNya.
“Dialah yang menurunkan kepada hambaNya ayat-ayat yang terang, agar Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan menuju cahaya. Dan sesungguhnya, Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadap kalian.“ (Al Hadid 9)
Jogja, 13 Oktober 2006
No comments:
Post a Comment