Friday, March 24, 2006

Ta'aruf

“Gmana mbak? Pekan depan kita jadi rihlah kaan? Si Lia sama Arum dah ku kasih tau, insyaallah mereka bisa kok, tapi nyusul soalnya baru keluar kelas jam10.” kataku sambil ku lihat sosok manis di depanku yang hanya senyum-senyum melihatku ”Lho kenapa mbak, hari ini tampak lebih fresh??” lanjutku
”dek, ahad besok kosongkan waktu ya... ada acara khusus buat adek” kata mbakku
”mmm... ahad ya mbak???”sambil pura2 sok mikir...
”iya mbak, insyaallah bisa.. emang ada apaan mbak??”
”proposal adek dah di acc ma salah satu ikhwan. Insyaallah ba’da mahrib biodatanya mbak antar ke kos ya…jam7 jangan kemana2!” jawab mbakku
….DEG….. proposalku.......DEG......... biodatanya .......DEG....... berarti bentar lagi mo proses ........DEG........ jantungku benar2 mo copot kali ini.
”ini adek baca dan pelajari dulu, persiapkan yang matang buat hari ahad. Jangan lupa sholat istiqaroh bla..bla...bla........” lanjut mbakku mbak murobiku... Ahad tinggal beberapa hari lagi, tugas amanah2 belum aku selesaikan setelah 3 hari kemaren kena demam. Gak bisa konsentrasi, mondar-mandir ke tempat murobi mencari tambahan ilmu, ketempat teman yang sudah lebih dulu mengalaminya untuk bahan referensi... buka buku dan internet.....lengkap deh.
Biodata itu entah sudah berapa bulan yang lalu aku ngisinya, dan sekarang dengan kesibukanku membuat aku lupa.
”mbak, nanti kalau ditanya masa depan gimana? Kan mbak belom kerja?”
”mending kalo nanyanya gitu, lha kalo dia ihwan yang seneng masak? Ditanya bumbu2 masakan...”
” apalagi kalo dia orang luar jawa... mana tau mbak Reni...”
”iya tuh, macam2 sayuran, cabe sekilo berapa....” hahahahhahahaahahaa tawa silih berganti dariku dan temenku yang dah ku anggap adek sendiri.
”ssssst jangan bilang sapa2 dulu ya..”ancemku
”siiip deh...eh mbak, gimana tuh mas ihwannya dah bekerja blom? Trus kalian nanti mo tinggal dmana mbak???”
”waduh..waduh... kan belom tentu jadi, namanya juga lagi mo ta’aruf blom tentu itu jodoh mbak kan...” jawabku sok bijak menutup obrolan di kamar. Hiks.. sambil berlalu aku ke belakang ambil air wudhu, aku curahkan semua kembali pada Allah. Ku haturkan sujudku kepadaMu ya Allah, ku pasrahkan dan ku serahkan sepenuhnya kepadaMu...

“Alhamdulillah dek, adek jauh lebih berani dari mbak dulu” kata mbak Evy beberapa saat setelah aku cerita.
“Lebih berani gimana maksud mbak?” penasaranku
”Gini, dulu waktu mbak masih seusia adek dan masih kuliah tentunya, belum berani ngomong sama ortu minta untuk nikah apalagi bikin proposal dan lain-lain” kata mbakku yang dah ku anggap lebih dari sekedar teman. Aku hanya senyum kecil berujung malu-malu sambil terus dengerin ceritanya.
”Islam meletakkan pernikahan sebagai bagian yang utuh dari keberagaman seseorang, artinya dengan seseorang beragama Islam, pada saat yang sama kepada-Nya dikenakan aturan pernikahan. Bahkan Rasulullah Saw. telah bersabda :
Apabila seseorang melakukan pernikahan, berarti telah menyempurnakan separuh agamanya, maka hendaklah ia menjaga separuh yang lain dengan bertakwa kepada Allah (HR. Baihaqi dari Anas bin Malik).
”Trus, kenapa mbak dulu niat banget gak mau bikin proposal atau isi biodata waktu masih kuliah?”tanyaku penasaran
”Alqamah bin Qais menceritakan bahwa ketika ia tengah berjalan bersama Abdullah bin Mas’ud di Mina. Di tengah jalan ia bertemu dengan Utsman, kemudian berbincang-bincang. Utsman berkata kepada Abdullah bin Mas’ud, ”Wahai Abu Abdurrahman, tidak maukah engkau kunikahkan dengan wanita muda agar dapat mengingatkan masa mudamu yang telah lewat?” Abdullah menjawab, ”jika kau berkata begitu, sesungguhnya Rasulullah Saw. sendiri pernah bersabda,
Wahai para pemuda, barang siapa yang telah mampu di antara kalian hendaklah melakukan pernikahan, karena ia dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan(kehormatan). Barangsiapa tidak mampu hendaklah berpuasa, karena ia menjadi benteng perlindungan (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’i).
Yang dimaksud dengan ”mampu” dalam hadits tadi adalah kemampuan berjimak. Akan tetapi menilik dari tujuan pernikahan yang sangat agung, yaitu menciptakan keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah, maka kesiapan dalam bentuk kemampuan berjimak saja tentu tidaklah cukup.
Terus terang dulu mbak tuh masih sayaaaaang banget sama ortu, gak mau nikah dulu sebelum menuhi cita-cita mereka lulus dengan gelar sarjana, bekerja dan nabung untuk masa depan, alias nikah” sambil sesekali senyum dan melanjutkan ceritanya.
”Pikiran mbak dulu masih yang gini, mau berbakti kepada ortu sebelum nantinya di ambil sama orang lain dan otomatis baktinyapun sudah gak utama lagi untuk ortu, maka mbak nikmati masa-masa itu dengan bermanja2 sama mereka.... sambil ihtiar tentunya. Mbak yakin, jodoh mbak suatu saat akan datang seiring dengan waktu serta kesiapan dari kedua belah pihak maupun keluarga.” sambil merangkul si Faisal putra pertamanya dengan mas Sus. Mereka diperkenalkan oleh pamannya mbak Evy yang kebetulan teman akrabnya mas Sus, waktu itu proses mereka sangat cepat dan singkat. Langsung lewat keluarga masing-masing tanpa proses yang sekarang aku hadapi tapi kurang lebihnya hampir sama, 2 bulan kemudian walimahanpun dilaksanakan.
”Mbak, lihat lagi dong poto2 pas walimahan kemaren...” pintaku sambil mengambil alih pelukan Faisal dari ibunya.
”Adek gak usah kawatir masalah materi atau seluk2 yang berhubungan dengannya nanti.” katanya membuatku terheran-heran.
”Kok mbak tau sih apa yang aku pikirin???” Kuangkat alis mataku sebelah kanan pertanda keherananku. ”Emang siiih, ortu gak mempermasalahkan semua itu... tapi kalau dipikir-pikirkan gak enak juga kalau dah berkeluarga, masih dapet beasiswa dari ortu.” lanjutku
”Di dalam Al-Qur’an mengecam keyakinan materialitis, di dalam banyak ayat-ayatnya serta mengarahkan agar kaum muslimin memiliki pandangan yang optimis menghadapi kehidupan dunia. Tidak tanggung-tanggung, Allah memberikan berita gembira berupa kecukupan kehidupan bagi pasangan yang melakukan pernikahan:
Dan nikahkanlah orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak nikah di antara hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan mamampukan mereka dengan karuniaNya, dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui (An-Nur:32).
Dengan sangat gamblang dan jelas Allah Swt. telah memberikan jaminan kepada orang-orang yang melaksanakan pernikahan karena takut terjerumus ke dalam perbuatan yang diharamkan Allah, dengan kemampuan dan terbebas dari kemiskinan. Bahkan untuk menjawab kekhawatiran sebagian masyarakat yang merasa rizkinya tidak mencukupi untuk makan berdua bersama istri, Nabi Saw. mamberikan gambaran praktis dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah r.a :
Makanan dua orang dapat mencukupi tiga orang, dan makanan tiga orang dapat mencukupi empat orang (HR. Bukhari dan Muslim)

Ingetkan materi itu?” tanyanya ku ikuti anggukan beberapa kali... ”Apalagi ortu adek gak mempermasalahkan akan hal itu kan. Alhamdulillah... biasanya kebanyakan malah justru ortu lho yang menentang karena alasan ini. Iya kaaan...” sambil melirik ke arahku
”Iya sih mbak...”jawabku singkat sambil menarik tangan kananku yang dari tadi bersarang di daguku.
”Inget gak dek cerita Ustdzh Ida Nur Laila istri Ust. Cahyadi?” tanyanya penuh semangat
”Iya mbak, inget benget.... waktu itu Usdz. Ida cerita kalo Ust. Cahyadi waktu melamar masih kuliah trus dateng ke rumah pakai kaus T-shirt dan sendal jepit. Subhanallah..... ya mbak...” senyumku tak henti-hentinya membayangkan hal itu
”Dan adek lihat kan sekarang beliau dan keluarganya bagaimana? Buku-bukunya, karya-karyanya, ceramah-ceramahnya..... Subahanallah.... gak nyangka ya dulu sempat juga seperti itu....” sambil beberapa kali ambil cemilan di meja, liat2 foto walimahan mbak Evy, gak terasa udah 5 tahun mereka menikah dan dikaruniai Faisal sebagai buah hati tercinta......
”Di jalan apa ukhti nanti menikah?”
”apa dek yang akan adek jawab misal besok waktu ta’aruf ditanya gitu?”lanjutnya
Penuh semangat ku jawab ”Di jalan yang membentang lurus menuju kebahagiaan dan kepastian akhir. Di jalan yang dipilihkan Allah untuk para Nabi, dan orang-orang yang setia mengikuti mereka. Di jalan yang menghantarkan Nabi Saw. menikahi istri-istrinya. Di jalan yang menghantarkan Ummu Sulaim menerima pinangan Abu Thalhah. Di jalan yang menyebabkan bertemunya Ali r.a dan Fatimah Az-Zahra dalam sebuah keluarga. Di jalan dimana ruhaniyah amat mendapat perhatian, tetapi tidak mengabaikan segi-segi materi. Di jalan dimana setan terkalahkan oleh orientasi Rabbani, dan menuntun prosesnya dari awal sampai akhir, senantiasa memiliki konstribusi terhadap kebaikan diri dan umat. Sejak dari persiapan diri, pemilihan jodoh, peminangan, ahad nikah hingga walimah, dan hidup satu rumah. Tiada yang dilakukan kecuali dalam kerangka kesemestaan dakwah.” sambil terengah-engah saking semangatnya.
”Siiiiip....” jawab mbakku mantap
”hehehe.. tapi kok keliatannya pefeck banget ya mbak...” ku kendorkan semangat yang tadi
”walaupun segala sesuatu itu tidak ada yang sempurna, tapi bersyukurlah kalau kita masih punya pandangan dan impian yang sempurna setidaknya kita berusaha untuk mendekati titik sempurna itu” jawab mbakku
”SEPAKAT” sambil ku angkat Faisal ku putar2 ke angkasa sampai capek dia ketawa....
”Yah, itulah pengalaman dari mbak. Setiap cerita pasti punya makna tersendiri. Semoga adek mendapatkan yang terbaik dan dengan petunjuk Allah mampu memutuskan semuanya. Jangan bingung-bingung, serahin semua sama yang punya cinta, hidup berkeluarga bukan hanya menyatukan dua hati tapi dua keluarga dua jiwa dalam satu pemahaman dalam satu tujuan dan dalam mencapai ke sakinahan keluarga demi mendapatkan ridho dari Illahi.” sambil mempersilahkan aku untuk minum

Dua hari sebelum hari H..... segera aku susul mbak murobi ke kosnya... tambah-tambah ilmu....
Inget juga nasehat seorang temen lewat email ”Menikah itu bukan hanya mempertemukan seorang lelaki dan seorang wanita saja. Menikah juga merupakan pertemuan dakwah, pertemuan yang akan meningkatkan ghirah perjuangan dan produktifitas dakwah sehingga terjadi persebaran dakwah yang lebih luas lagi. Untuk membangun keluarga muslim yang dilandasi taqwa, pertama kali seorang muslim harus mencari pasangan yang baik keislamannya dan yang memahami tugas risalah hidupnya. Menjadikan pasangan hidupnya sebagai sahabat dakwah yang baik, yang selalu mengingatkan bila ia lupa, memberi dorongan dakwah dan tidak menghalanginya.”
Aduh, jadi makin deg-degan aja nih, hingga akhirnya hari itu datang juga......


”Tafadol dari akhwat duluan, ada pertanyaan?” suara murobinya diseberang sana mempersilahkan aku untuk bertanya lebih lanjut setelah tadi dibuka dengan basmallah, tilawah dan beberapa prakata.
Ekor mataku melirik kearah kanan memperhatikan mbak Endah istri murobi pihak ikhwan. Baru tahu beberapa hari kemaren sebelum hari H, aku pikir yang menemaniku saat ta’aruf adalah murobiku, tapi ternyata lebih baiknya adalah muhrim dari salah satu wakil kami. Ku lihat hanya bentuk bibirnya yang semakin melemar membentuk senyuman kecil menandakan mempersilahkan aku untuk berbicara. Mendadak dadaku sesak dipenuhi deguban jantungku yang semakin kencang, seketika hilang semua coteran2 yang sudah aku persiapkan selama beberapa hari kemaren. Ya Allah tolonglah aku... berilah aku ketenangan dan kestabilan hati... walaupun proses ini baru pertama kali aku jalani dan belum tentu jawaban atas pertanyaan2ku selama ini kepadaMu, kuingin kelancaran serta sikap yang terbaik yang aku berikan.
”Apa motifasi, visi serta misi antum untuk menikah?” satu pertanyaan ku berikan kepadanya seperti yang pernah mbak Evy tanyakan kepadaku.
Subhanallah, lancar tanpa keragu2an sedikitpun dia menjawabnya. Aku mengangguk ke arah mbak Endah menandakan kelanjutannya. Ku pikir tak perlulah menanyakan rumahnya nanti dimana, siapa yang akan bertanggungjawab masak dan ngurusin rumahtangga apakah sepenuhnya akhwat atau sebaliknya atau kita jalani bersama seperti dalam bayanganku.
”Dari mbak Reni insyaallah cukup, selanjutnya dari Ihwan tafadol....” mbak Endah mempersilahkan.
”Cukup” jawab seorang ihwan singkat di seberang sana...
Alhamdulillah gak ada pertanyaan untukku.... rupanya dia bener2 siap lahir batin tanpa mempertanyakan macem2 lagi selain apa yang telah aku tuliskan di biodata kemaren. Mungkin dia seteguh Bilal bin Rabah, seorang bekas budak hitam lalu Islam memuliakannya. Ketika itu, beliau datang bersama Abu Ruwaihah menghadap Kabilah Khaulan, kemudian berkata,
"Aku ini Bilal, dan ini saudaraku. Kami datang untuk meminang. Dahulu kami berada dalam kesesatan kemudian Allah memberi petunjuk. Dahulu kami budak-budak belian kemudian Allah memerdekakan. Jika pinangan kami diterima, kami panjatkan ucapan Alhamdulillah dan kalau ditolak maka kami mengucapkan Allahu Akbar."
”Baiklah, dari pihak ikhwan bagamana? Dilanjut??” tanya murobinya.
”iya, insyaallah” jawabnya tegas tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan atau melirik ke arahku hanya sesekali melihat ke arah murobinya
Ku lihat lagi mbak Endah yang senyum ke arahku. ”Sebelumnya saya mau minta beberapa waktu untuk berfikir, insyaallah dalam waktu maksimal 3 hari ini akan saya hubungi.”
Ditutup dengan beberapa kesimpulan, prakata, hamdalah dan do’a penutup majelis... ”kayak liqo aja...” bisik nakalku dalam hati.
Akhirnya moment-moment itu berakhir juga, aku memilih cara ini yang insyaallah sesuai dengan syariah, melewati orang-orang terpercaya yang insyaallah amanah di dalamnya. Bukan yang semata-mata mencari kenyamanan atau simpel semata... karena keberkahan dalam keluarga ditentukan juga dari proses ta’aruf, peminangan, ahad nikah, sampai walimahan dan seterusnya.....Sesampainya di rumah aku ambil air wudhu dan ku pasrahkan sepenuhnya kepada yang Maha Pemberi Cinta. Bismillah.... dalam keragu-raguanku kuinginkan kepastian dan dari kemantapanku atas suatu hal aku mohon petunjuk dariMu......
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri , supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya , dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang .Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Ar Rum ayat 21)

Tiga hari kemudiaaaaaaaan.............

Cerita di atas hanyalah fiktif belaka…. Adapun kesamaan tokoh dan kisah hanya sebatas ketidak sengajaan. Bagi teman2 yang membacanya sambil deg2an.... ati2 ya, sang jantung hati pujaan jiwa sudah semakin mendekat lho, dah pada siap belom nih?... :D

No comments: