Tuesday, April 04, 2006

Mersani jawoh


“Mersani jawoh”

melihat hujan di luar semakin deras saja. Sedia payung sebelum hujan, kali ini memang jitu. Jam 7 malem sudah lewat, aku lanjutkan baca-baca cari inspirasi di google.
”kamu pulang sama siapa ren? Dijemput atau naek sepeda?” tanya temenku satu profesi di sini.
”sendiri janes.... gak dijemput kok” jawabku agak bingung saat itu karena memang aku kalau pulang selalu jalan sendiri dan gak da yang tau, semoga..
”Ok, ntar barengan aja ma aku” katanya lagi.
”look so sad... ada apa?” satu message kuterima dari komputer clint no.8...ups..agak membuyarkan konsentrasiku. Sambil ku lirik dia di depan sana..beneran nih message dikirim ma dia untukku????
”Gak da pa2 kok, cuma pengen baca2 aja” sent to clint no.8.
”ouw..ya udahdeh, jangan sungkan berbagi yaaa...maybe sometimes” lanjutnya... ”yup...thanx yaa ;-)” jawabku langsung tanpa pikir panjang. Ku lanjutkan pencarianku di goole, sambil beribu2 pikiran silih berganti menghapiriku. Ada apa yaaaa..... begitu sad kah? begitu bad kah? Teman, you so kinds... thanks for all. Perhatianmu sebersit membuatku gundah, membuat ketulusanmu ternodai oleh pikiran2 yang lain. Semurni dan setulus itukah perhatianmu kepadaku? Ataukah hanya sekedar topeng penutup niat? “Astagfirullah…” berkali2 ku tutup pikiran itu dengan istigfar. Dia juga mahluk ciptaanNya dia juga lahir dari kefitrohanNya tapi bukan tidak ada pilihan kalau kesucianNya itu sekarang telah ternoda oleh keyakinannya. Berujung dari sifat dasar manusia yang mempunyai sifat kasih sayang tidak ada salahnyakan kalau kasih sayang, perhatian serta pengorbanan itu kita berikan kepada sesama mahluk ciptaanNya walaupun dengan sekian banyak perbedaan pemahaman yang terbungkus dalam keyakinan. Patutkah semua itu diselimuti oleh kecurigaan2 yang penuh alasan, niscaya ketulusan itupun lambat laun akan memudar. Sekilas ku buka ingatanku beberapa moment yang lalu, asyiknya berkumpul bareng temen2 di kampus tanpa ada pikiran2 ’bagaimana dan megapa?’ tanpa batas, tanpa ruang bahkan tanpa rongga yang memisahkan kebersamaan itu, walau yang ku tau hanya sebatas perbedaan keyakinan tanpa ada pertanyaan2 yang mendasar dibaliknya. Itulah masa2 ketidak tauanku tentang suatu hal, tentang pentingnya dakwah yang seharusnya kita emban, tentang terciptanya suatu kerukunan yang hakiki bukan sekedar topeng2 belaka. Perjuangan dakwah untuk muslim tidak sebatas pada bagaimana kita memberikan ceramah2 atau mengajak ke acara2 keislaman, menyebarkan atau membagi ilmu kepada mad’u dari yang tidak tau menjadi tau dari yang tau menjadi perwujudan/praktek dan pada akhirnya menjadi suatu kebiasaan atau kewajiban. Perbedaan keyakinan tidak seharusya memisahkan kita, tidak seharusnya menjadikan jurang panjang di antara kita, walau Allah secara tegas akan memisahkan kaum muslimin dengan kaum musrikin. Beberapa artikel, ceramah2 para ustadz serta kenyataan2 yang ada saat ini tentang suatu bentuk pengrusakan moral serta akhlak secara halus terhadap umat islam dari mereka2 yang menginginkan kita untuk hancur bukanlah satu2nya alasan dan janganlah disama ratakan. Merekapun ada yang awam seperti layaknya umat islam yang belum mengerti betul tentang tugas risalahnya di bumi Allah ini. Seperti apa yang pernah aku rasakan di saat2 yang tlah lalu. Mereka adalah sebagian kecil dari mereka yang tidak memahaminya, mereka adalah objek dakwah dan bukan musuh dakwah. Jangan dipandang sebelah mata jangan pula dipandang dengan sorot tajam mata namun dengan kasih sayang dan rengkuhan pelukan kita untuk merangkulnya kedalam rumah kita, kedalam jalan kita jalan dakwah kita.
Khul yaaa ayuhal kaafiruun, laaa a’budhu ma ta’buduun, walaaa antun ngaabidunamaaa a’bud, walaaa ana ngabidumma ngabathum, walaaa antun ngaabidunamaaa a’bud, LAKUM DINUKUM WALIYADIN ”bagimu agamamu dan bagiku agamaku”.

Wawahu’alam bishowab
deJava, 4 april 2006

No comments: