Wednesday, May 24, 2006

Namanya Soleh, insyaallah dia sesoleh namanya. Aaamiin... adek kelasku jauh saat SD, rumahnya pas di belakang rumahku. Jadi saat dia atau sodaranya yang lain nyetel lagu atau main gitar kedengeran keras banget dari dapur rumah. Pernah suatu ketika, waktu aku lagi nyuci piring di dapur... aku denger suara teriak2an saut2an atau suara piring pecah. Kalau kata ibu... di belakang lagi ada perang piring terbang. Tapi, beberapa malam kemarin aku di rumah, suara itu sudah tergantikan dengan suara mesin jahit, padahal waktu itu sudah jam11an malam.
Dulu, waktu lulus smp emaknya sering ke rumah. Cerita tentang keadaan anaknya yang ingin melanjutkan sekolah tapi keluarga tidak ada biaya. Emaknya buruh sawah, dan bapaknya tukang becak di pertigaan jalan yang tentunya tidak pasti penghasilan perharinya..... Ternyata, pertengkaran2 yang sering aku dengar itu salah satunya karena dia pengen nglanjutin sekolah, ’biar pinter biar bisa cari duit dan bisa nyenengin emak dan pak’e.. Aku gak mau ngeliat kalian terus menerus bekerja untukku sampe tua...’ katanya. Dia seorang pekerja keras dan tak pernah patah semangat. Terbukti dia sering bantu emaknya di sawah atau bantu tetangga2 lainnya saat di luar jam sekolah tentunya, karena dia ingin beli seragam baru, ingin beli buku baru.... dia kesampingkan keinginan main dengan teman2 sebayanya. Keuletan dan keseriusannya diimbangi dengan rajinnya dia pergi ke masjid, mushola.... Akhirnya dengan pertolongan Allah melewati perantara tangan hambaNya yang lain, dia bisa melanjutkan ke mts setara dengan sma. Kata ibu, nilainyapun lumayan, walau tidak sempat juara kelas namun aku yakin dia mampu jika kondisinya memungkinkan untuk dia belajar. Usahanya belumlah berhenti sampai di sana, dia nyadar betul kalau dia tidak mungkin bisa melanjutkan kuliah dengan keadaan apapun yang dia hadapi sekarang, apalagi bapaknya sudah meninggal pada saat itu. Pikirannya matang, usahanya luarbiasa... saat ditanya mau ngapain setelah lulus? dia mau kursus, dia gak mau ngikutin teman2nya atau tetangga2nya yang setelah lulus sekolah langsung kerja jauh ke luar kota atau bahkan ke luar negeri. Dia kursus jahit, cita-citanya mau bikin usaha sendiri, walau pendapatannya beda jauh dibandingkan dengan teman2nya setidaknya dia gak sempat merasakan phk atau pindah2 kerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain.... mau merasakan susahnya hidup bareng keluarga.... mungkin dia mau bantu mas eri (tukang jahit yang udah mapan) meringankan kerjaannya atau juga dia mau kasih kesempatan konsumen untuk mencoba jahitan yang baru. Entahlah.... yang pasti sekarang dia kalau pagi pergi ke pasar untuk jahit di tempat dia kursus dulu, malamnya dia lanjutin di rumah sambil ada beberapa PR dari tetangga2 yang sengaja ingin bajunya tampak rapi di jahit di tempatnya. Kata ibu, biaya kursus jahit dan mesin jahit yang sekarang ada di rumahnya adalah hasil jerih payahnya sendiri...
Subhanallah... satu kata untukmu Soleh yaitu salut.... teruskan perjuanganmu, Allah bersama orang-orang soleh yang mau terus berusaha.... insyaallah, kebahagiaan yang hakiki telah dan akan selalu kamu dapatkan.
Makasih Ibu’.... ceritanya bikin aku nangis saat nulis ini.... buatku malu, buatku sadar, buatku bercermin. Butanya aku menatap karuniaMu, silaunya aku menatap tingginya tiang. Sujud syukurku kuhaturkan kepadaMu atas karunia yang telah Engkau berikan padaku, dengan keterbatasan yang aku rasakan saat ini mempunyai arti lebih bagi mereka yang dengan penuh keiklasan dan kepasrahan diri menerima semua pemberianMu. Dengan ini aku semakin bersyukur padaMu ya Allah, terimakasih atas semua karunia-karuniaMu...
Suatu malam di dalam kamar menagis mengingat semuanya....May ’06

No comments: