Al-Ghazali (1058-1111 M)
Sebelumnya, kehidupan pemikiran pada zamannya sangat memprihatinkan, karena kaum Muslim terbagi-bagi menjadi beberapa kelompok: kelompok defensif yang terdiri atas ulama agama yang telah merasa puas dengan Alquran dan hadis, kelompok moderat yang berusaha mengikuti berbagai mazhab filsafat dan rasionalisme, kelompok Mu'tazilah yang mengambil filsafat Yunani dan logika Aristoteles, kelompok Syi'ah Batiniyah yang tidak berpendapat bahwa nas-nas agama mengandung tafsir batin yang tidak diketahui kecuali oleh orang-orang yang hatinya jernih, kelompok sufi yang percaya bahwa makrifat kepada Allah bisa dicapai oleh pencari hakiki melalui cahya internl bukan dengan akal atau mengikuti sunah, dan kelompok filosof yang mengikuti filsafat Plato modern. Semua kelompok ini saling menarik pemikiran Islam pada zaman al-Ghazali.
Dalam tulisannya, Al-Ghazali berkata, “Sejak muda hingga saat ini, ketika usiaku menjelng lima puluh tahun, kuarungi ombak lautan yang dalam ini, kutemukan barbagai rahasi aliran semua kelompok. Aku tidak meninggalkan kelompok batibiah keculi telah kutelaah kebatiniahannya. Aku tidak meninggalkan kelompok zhahiri kecuali telah kukuasai kezhahiriannya. Tidak ketingglkn kelompok filosof kecuali setelah aku menguasai hakikat filsafatnya. Tidak kutinggalkan kelompok teologis kecuali aku telah benar-benar mengkaji puncak teologis dan perdebatannya, tidak kuabaikan kelompok sufi kecuali aku telah menelusuri rahasia kesufiannya, tidak juga kelompok zindik kecuali aku telah meneliti sebab-sebab di balik keberanian dan kezindikannya. Rasa penasaran untuk mengetahui hakikat semua persoalan di atas selalu menghantuiku sejak aku masih muda. Tampaknya, hal itu mereupakan instink dan fitrah dari Allah swt yang disimpan dalam benakku, bukan karena kemauan dan keinginanku...” Pada tempat yang lain dia menulis, “Aku telah mencari ilmu bukan untuk Allah. Maka ilmu itu tidak mau kecuali bila ilmu itu untuk Allah.”
Ketika para filosof bersepakat untuk mengikuti logika Yunan, silogisme logika Aristoteles, bukan menggunakan logika dalam ilmu agama dan syariat, al_ghazali berselisih pendapat dengan mereka, terutama dalam keyakinan bahwa pelbagai hakikat keagamaan dapat diciptakan secara mandiri oleh akal; atau akallah satu-satunya petunjuk kepada hakikat tersebut. Dia sangat menghormati Sunah dan segi lahiriah syariat. Meskipun demikian, dia berpendapat bahwa ulama agama lebih memperhatikan hal-hal yang bersifat batiniah dan esensial. Al-Ghazali pernah menyatakan pengalaman kesufian dan keruhaniannya ketika dia berkata kepada kawan-kawannya, “Tuhanku, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka jahanam, maka masukkanlah aku ke neraka jahanam. Dan jika aku menyembah-Mu karena sangat menginginkan surga, maka jauhkanlah surga itu dari diriku. Akan tetapi, jika aku menyembah-Mu karena memang ibadat itu adalah hak-Mu, maka jangan Engkau cegah aku menikmati keindahan-Mu yang sangat Agung.” Pada saat yang sama dia sangat kritis terhadap orang-orang sufi yang melampaui batas, yang mempercayai teori inkarnasi dan penyatuan diri dengan-Nya. Dengan berbagai kemampuan yang dimilikinya, al-Ghazali dapat menjadikan sunnah, filsafat, dan sufisme menjadi satu aturan yang harmobis dan seimbang. Dia dapat menempatkan ilmu agama, sufisme, dan filsafat pada satu pemikiran yang logis dan teratur. Dia dapat mengembalikan pengikut sufi kepada syariat lahir, dan mengembalikan para filosof yang mengandalkan akal semata kepada jalan yang benar.
Karya terpenting al-Ghazali ialah Ihya ‘Ulum al-Din. Buku lainnya yaitu al-Munqidz min al-Dhalal. Dalam buku ini dia merekam perjalanan hidupnya sendiri. Dia menjelaskan apa yang ditemukan dalam pengembaraan ruhaninya, kegelisahan jiwanya, ketidakyenangan pikirannya sampai kepada keimanan dan keyakinannya, serta pemahaman keagamaannya yang dianggapnya sebagai kehidupan ruhani dan amal salih, bukan sekedar ucapan ritual, symbol-simbol, dan ibadat formal.
Al-Ghazali memiliki pemikiran liberal yang sangat cinta terhadap ilmu pengetahuan dan penyikapan berbagai hakikat. Dia mempunyai keberanian untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan mayoritas ulama. Misalnya, dia menganjurkan penguunaan musik sebagai pengiringan ibadat dan wara’. Dia berkeyakinan bahwa kenikmatan surgawi dan kenikmatan ruhani bukanlah kenikmatan fisikal. Dia sangat toleran terhadap Kristen dan pengikutnya. Bahkan dia mengecam terhadap pelaknatan Yazid bin Mu’awiyah, seraya berkata: “Setiap orang Muslim yang melaknat saudara Muslimnya wajib dilaknat…”
Semua upaya al-Ghazali yang betul-betul ikhlas telah mewujudkan keteladanan. Dia sangat berakhlak, zuhus, sederhana, toleran, dan pemaaf.
Sumber : 100 Tokoh dalam Sejarah Islam
Husayn Ahmad Amin
No comments:
Post a Comment