Fatimah Az-Zahra’
FATHIMAH AZ-ZAHRA’
Dia adalah wanita yang paling mulia di seluruh dunia pada zamannya, putrid ke-4 Rasulullah dalam pernikahannya dengan Khadijah binti Khuwailid. Allah menghendaki Fatimah lahir pada tahun ke-5 sebelum diutusnya Muhammad menjadi rasul, bertepatan dengan peristiwa besar, yakni ditunjuknya Muhammad sebagai penengah ketika terjadi perselisihan antar suku-suku Quraisy tentang siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad setelah ka’bah selesai diperbaharui. Berket kecemelangan akalnya, Muhammad berhasil memecahkan persoalan yang hamper menyebabkan perang di antara kabilah-kabilah yang ada di Mekkah.
Kelahiran Fathimah disambut gembira oleh Rasulullah. Saat itu beliau sudah melihat pada diri putrinya itu ada tanda-tanda keberkahan dan kebaikan. Oleh karena itu, beliau memberinya nama Fathimah dengan gelar Az-Zahra’ (yang bersinar wajahnya). Fathimah juga bergelar Ummu Abbihaa (ibu bagi ayahnya). Dia sangat mirip dengan ayahnya.
Fathimah tumbuh dewasa di rumah seopenuh kasih. Nabi mendidik dan membimbingnya sedemikian rupa agar kelak ia menjadi seorang wanita yang benar-benar mempu meneladani akhlaq, kehalusan hati, dan arahan-arahan yang beliau berikan, sehingga di antara hal yang membuat ibunya, Khadijah merasa amat senang kepadanya adalah karena dia memang memiliki sifat-sifat yang suci dan terpuji.
Dengan didikan itulah, Fathimah tumbuh menjadi seorang wanita yang selalu menjaga kesucian dan kehormatan dirinya, menyenangi kebaikan, berakhlaq mulia, dan mampu meneladani Rasulullah, sang teladan tertinggi dan contoh yang terbaik bagi setiap gerak-geriknya.
Ketika usia Fathimah menginjak usia lima tahiun, terjadilah peristiwa besar pada diri ayahnya, yakni turunnya wahyu Allah kepada ayahnya. Sejak itulah dia mulai merasakan adanya tahapan pertama dari tugas dakwah yang harus diemban ayahnya. Dia juga menyaksikan begaimana ibunya selalu mendampingi dan membantu ayahnya dalam setiap perkara dan urusan besar yang dihadapinya.
Fathimah juga menyaksikan bagaimana kaum kafir Quraisy banyak melancarkan gangguan kepada ayahnya, sehingga terlintas dalam benaknya, sekiranya saja mampu, tentu semua gangguan orang kafir itu akan ia tembus dengan nyawanya dan dia cegah. Namun apalah daya, Fathimah ketika itu hanyalah seorang gadis kecil.
Di antara penderitaan terberat yang ia rasakan adalah pemboikotan kaum Quraisy terhadap kaum muslim beserta semua warga Bani Hasyim dalam klan Abu Thalib. Pemboikotan secara ekonomi dan sosial ini mempengaruhi pertumbuhan fisik Fathimah, sehingga ia tumbuh menjadi seorang yang lemah fisiknya.
Belum lagi pulih penderitaan akibat pemboikotan yang menyesarakan itu, tiba-tiba ibunya, Khadijah, wafat. Lengkaplah sudah penderitaan an kesedihan yang dialami Fathimah.
Sejak kematian ibunya, Fathimah mulai menyadari bahwa untuk ke depannya, ayahnya sebagai seorang nabi tentu telah dihadang oleh beban yang amat berat, yakni harus melewati masa sulit dalam menjalankan dakwah di jalan Allah, terutama setelah Abu Thalib menyusul wafat.
Tidak ada pilihan bagi Fathimah selain harus meningkatkan segala kemampuan dan kesabaran dalam menanggung segala beban penderitaan dengan semata-mata karena mendampingi ayahnya untuk mengganti peran ibunya, Khadijah. Oleh karena itulah, ia digelari dengan Ummu abiihaa, ibu bagi ayahnya.
Ketika kamum muslim diizinkan oleh Rasulullah untuk hijrah ke Madinah, ’Ali mendapat tugas yang besar dan penuh resiko, yakni mempertaruhkan nyawanya untuk menjadi tebusan Rasulullah dengan cara tidur di tempat tidur beliau guna mengelabuhi para pemuda Quraisy yang hendak membunuh beliau. Setelah itupun, ’Ali harus tetap tinggal di Makkah selama tiga hari untuk mengembalikan barang-barang titipan orang banyak yang ada di dalam tanggungan Rasulullah.
Adapun Fathimah dan kakaknya, Ummu Kultsum, tetap tinggal di Makkah sampai Nabi mengutus seorang sahabat untuk mengawal keduanya ke Madinah. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-13 kenabian bertepatan pada saat Fathimah berusia 18 tahun. Di Madinah saat itu Fathimah menyaksikan bahwa kaum Muhajirin telah merasakan ketenangan dalam bertempat tinggal dan tidak merasa asing lagi. Di Madinah kaum Muhajirin dan kaum Anshar telah dipersaudarakan oleh Rasulullah. Rasulullah juga mengangkat ’Ali sebagai saudara beliau.
Setelah Rasulullah memperistri ’Aisyah, datanglah beberapa sahabat senior kepada Rasulullah untuk melamar Fathimah, setelah sebelumnya mereka sempat menundanya dikarenakan Fathimah selalu sibuk mendampingi dan memberikan pelayanan kepada ayahnya. Di antara mereka ada Abu Bakar dan ’Umar, tetapi Nabi menolaknya dengan halus.
Tak lama kemudain datang juga ’Alo dengan maksud yang sama. ’Ali menceritakan proses lamarannya sebagai berikut: ”Ketika aku hendak melamar Fathimah kepada Rasulullah, demi Allah, aku tidak mempunyai apa-apa. Aku hanya teringat bahwa diriku masih memiliki hubungan kekerabatan dengan baliau, maka aku beranikan diri melamarnya. Ketika Nabi bertanya kepadaku: ’Apakah engkau mempunyai sesuatu?’, aku menjawab: ’Tidak, wahai Rasulullah.’ Beliau bertanya lagi: ’Di mana baju besi huthamiyyah yang dulu aku berikan kepadamu?’ Aku menjawab: ’Masih ada padaku, wahai Rasulullah. ’Beliau bersabda lagi: ’Berikan baju besi itu kepada Fathimah (sebagai mahar).’”
’Ali kemudia bergegas pulang dan segera kembali dengan membawa baju besinya itu. Nabi lalu menyuruh ’Ali menjual baju besi itu sebagai biaya pernikahannya. Baju besi itu dibeli ’Utsman bin ’Affan dengan harga 470 dirham. Setelah ituuang tersebut diberikan kepada Rasulullah, sebagian uang itu beliau serahkan kepada Bilal untuk dibelikan wangi-wangian dan sisanya beliau serahkan kepada Ummu Salamah untuk dibelikan perlengkapan kedua mempelai.
Selanjutnya, Nabi mengundang para sahabat dan mempersaksikan kepada mereka bahwa beliau telah menikahkan putri beliau yang bernama Fathimah dengan ’Ali bin Abu Thalib dengan mahar 400 mitsqal (1 mitsqal = 4,2 gram) perak sebagai bentuk pelaksanaan terhadap Sunnah dan kewajiban yang telah ditentukan. Rasulullah menutup khutbah nikah dengan mendo’akan keberkahan bagi kedua mempelai dan mendo’akan pula agar keduanya dikaruniai keturunan yang shalit. Setelah selesai akad nikah, beliau menghidangkan kurma kepada para tamu undangan.
Pada malam zafaf (pengantin)nya Fathimah bersama ’Ali bin Abu Thalib, Rasulullah menyuruh Ummu Salamah agar mengantarkan kedua mempelai ke rumah ’Ali dan menyuruhnya agar di sana dia mempersiapkan segala sesuatunya serta memberitahukan kepada kedua mempelai agar menunggu beliau di sana saja, karena beliau akan datang berkunjung. Setalah shalat ’Isya’, beliau datang menemui kedua mempelai. Di sana beliau minta diambilkan air, lalu berwudhu’ dengan air itu dan sisanya beliau guyurkan kepada kedua mempelai. Selanjutnya, beliau berdo’a: ”Ya Allah, berikanlah berkah kepaa keduanya; tetapkanlah berkah atas keduanya; dan berkahilah keturunan keduanya.”
Kamu muslim menyambut gembira pernikahan Az-Zahra’ dengan ’Ali bin Abu Thalib. Dalam pernikahan ini, Hamzah, paman Nabi sekaligus paman ’Ali datang dengan membawa dua ekor kambing untuk disembelih dan dagingnya dibagikan kepada orang-orang di Madinah.
Belum genap setahun mereka menikah, Allah memberikan karunia kepada Fathimah dan orang-orang yang mencintainya dengan kelahiran seorang cucu laki-laki pertama untuk Rasulullah pada tahun ke-3 Hijriyah. Nabi sangat gembira dengan kelahiran cucunya itu. Beliaulah yang mengumandangkan adzan di telinga bayi mungil itu,kemudia mentahniknya dan membarinya nama Hasan. Beliau jugalah yang membersihkan kotoran yang ada di kepala Hasan serta bershadaqah perak kepada fakir miskin seberat timbangan rambut Hasan.
Belum genap satu tahun usia Hasan, lahirlah anak ke-2 mereka, Husain, pada bulan Sya’ban tahun ke-4 hijriyah.
Belum merasa amat senang terhadap kedua cucunya itu. Beliau melihat bahwa keduanya memiliki arti tersendiri bagi kehidupan pribadi beliau di muka bumi ini, sehingga beliau menyayangi keduanya dengan sepenuh hati.
Ketika turun ayat:
”Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari diri kalian, wahai ahlul bait, dan membersihkan diri kalian sebersih-bersihnya.” (Qs. Al-Ahzab)33):33),
Saat itu Rasulullah sedang berada di rumah Ummu Salamah. Beliau lalu memanggil ’Ali Fathimah, Hasan, dan Husain, kemudian beliau menghimpun mereka dalam satu kain seraya berdo’a: “Ya Allah, mereka inilah ahlul baitku (anggota keluargaku). Ya Allah, hilangkan dosa dari diri mereka dan bersihkan diri mereka sebersih-bersihnya. ”Beliau membaca do’a tersebut tiga kali, kemudia melanjutkan dengan: ”Ya Allah, curahkan rahmat dan ampunan serta berkah-Mu kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah mencurahkannya kepada kaluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”
Pada tahun ke-5 Hijriyah, Fathimah kembali melahirkan seorang anak perempuan yang oleh Rasulullah diberi nama Zainab. Dua tahun kemudian lahir kembali seorang anak perempuan yang oleh Rasulullah diberi nama Ummu Kultsum.
Demikian Allah memberikan nikmat-Nya yang besar kepada Fathimah dengan menjadikannya sebagai penerus keturunan Nabi-Nya dan menjadikannya sebagai keturunan paling mulia yang pernah dikenal manusia.
Rasulullah sangat menyayangi Fathimah sampai-sampai apabila beliau pulang dari bepergian, setelah melaksanakan sholat sunnah dua raka’at di masjid, beliau lebih dulu menemui Fathimah sebelum menemui istri-istrinya. Aisyah berkata: ”Aku tidak pernah melihat seorang pun yang cara bicara dan jalannya paling mirip dengan Rasulullah, selain Fathimah. Bia ia datang mengunjungi Rasulullah, Rasulullah berdiri, lalu menciumnya dan menyambutnya dengan hangat. Begitu juga sebaliknya yang diperbuat Fathimah bila Rasulullah datang mengunjunginya.
Rasulullah pernah memberikan gambaran kecintaan beliau kepada Fathimah, tatkala beliau berdiri di mimbar: ”Sungguh Fathimah adalah bagian dariku. Siapa yang membuat dia marah, berarti telah membuat aku marah.” dalam riwayat lain disebutkan: ”Fathimah adalah bagian dariku. Aku merasa terganggu jika ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti.”
Akan tetapi, kecintaan Nabi kepada Fathimah tidak menghalangi beliau untuk tetap mengingatkan Fathimah agar selalu beramal shalih dan membekali diri dengan ketaqwaan. Beliau pernah bersabda: ”.... Wahai kaum Quraisy, juallah diri kalian dengan ketaatan kepada Allah, karena aku sama sekali tidak bisa menolak azab Allah dari diri kalian.... Wahai Fathimah, mintalah harta kepadaku sesuka hatimu, namun ketahuilah bahwa aku tidak dapat menolak adzab Allah dari dirimu sedikitpun.” Dalam riwayat lain beliau bersabda: ”Wahai Fathimah, putri Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka, karena aku tidak mempunyai kekuasaan untuk menolak siksa Allah atau mendatangkan manfaat untuk dirimu.”
Tsauban, maulana Rasulullah, berkata: ”Aku pernah menyertai Rasulullah menemui Fathimah yang saat itu mengenakan kalung emas di lehernya. Fathimah berkata sambil memperlihatkan kalung tersebut: ’Ini adalah kalung hadiah dari Abu Hasan (’Ali) kepadaku.’ Akan tetapi, Rasulullah bertanya: ’Wahai Fathimah, sukakah engkau bila orang-orang mengatakan: ’Inilah Fathimah, putri Muhammad, tengah memegang kalung dari api neraka?’ Beliau mengecamnya dengan keras, lalu keluar tanpa sempat duduk. Fathimah pun segera menjual kalung itu dan uangnya ia belikan seorang budak yang kemudian ia memerdekakan. Setelah berita itu sampai kepada Rasulullah, beliau berkata: ’Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fathimah dari api neraka.”
Demikianlah kedudukan Fathimah di sisi ayahnya, Rasulullah. Namun demikian, hal ini tidak menghalangi beliau untuk mengecam dan memperingatkan Fathimah dengan tegas bila ternyata dia berbuat sesuatu yang menyimpang, sebab beliau tidak dapat menolak adzab Allah sedikit pun dari dirinya. Bahkan beliau pernah memperingatkan dengan tegas bahwa jika ia mencuri, beliau sendirilah yang akan memotong tangannya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Hadits tentang wanita dari Bani Mukhzum yang tertangkap karena mencuri, lalu kaumnya ingin membelanya dengan perantaraan Usamah bin Zaid bin Haritsah, laki-laki kesayangan Rasulullah, yang mana beliau lalu bersabda: ”Demi Allah, seandainya Fathimah, putri Muhammad, mencuri, pasti akan aku potong tangannya.”
Lebih jauh dari itu, walaupun beliau sangat menyayangi Fathimah, -meski Fathimah hidup serba kekurangan- beliau tetap lebih mendahulukan membantu orang-orang fakir dan mereka yang membutuhkan daripada memanjakan putri kesayangannya.
’Ali, suaminya, pernah berkata kepadanya: ”Wahai Fathimah, pekerjaanmu yang berat itu membuat hatiku terenyuh, sedangkan saat ini Allah telah memberikan banyak tawanan kepada ayahmu. Karenanya, pergilah engkau menghadap beliau dan mintalah seorang dari mereka untuk menjadi pelayanmu. ”Fathimah menjawab: ”Baiklah, insya Allah aku laksanakan.”
Selanjutnya, datanglah Fathimah menghadap Nabi. Tatkala beliau melihatnya, beliau pun menyambutnya dengan senang hati, lalu bertanya: ”Apa keperluanmu, wahai anakku?” Ia menjawab: ”Aku hanya hendak memberikan salam kepada engkau.” Dia malu menyampaikan keinginannya kepada ayahnya, lantas ia pulang. Keesokan harinya, Fathimah datang bersama ’Ali. ’Ali lalu menceritakan kepada Fathimah dan mengutarakan maksudnya kepada Rasulullah. Akan tetapi, beliau berkata: ”Demi Allah, aku tidak akan memberikannya kepada kalian berdua, karena aku tidak mau memberikan ahli shuffah (orang-orang fakir yang tinggal di serambi Masjid Nabawi –edt.) melipat perutnya karena lapar. Saat ini aku tidak mempunyai sesuatu yang dapat kushadaqahkan kepada mereka. Oleh karena itu, budak-budak itu semuanya akan aku jual dan harganya kushadaqahkan kepada mereka.”
Keduanya pun pulang dengan tangan kosong. Selanjutnya, Rasulullah mendatangi rumah mereka, tetapi mereka sudah memakai selimut beludru (handuk tidur). Selimut mereka itu pendek, sehingga apabila mereka menutupi kepala mereka, terlihatlah kaki mereka dan bila mereka menutupi kaki mereka, terlihatlah kepala merekan. Keduanya hendak berdiri menyambut Nabi, namun beliau bersabda: ”Tetap sajalah di tempat kalian...! Maukah aku beri tahukan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian minta kepadaku itu?” Mereka menjawab: ”Tentu mau.” Selanjutnya, beliau bersabda: ”Ada beberapa kalimat yang diajarkan Jibril kepadaku, yaitu setiap kali selesai shalat kalian bertasbihlah sebanyak 10 kali, bertahmid sebanyak 10 kali, dan bertakbir sebanyak 10 kali. Jika kalian hendak tidur, bertasbihlah 33 kali; bertahmidlah 33 kali; dan bertakbirlah 33 kali, maka yang demikian itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pelayan.
’Ali berkata: ”demi Allah, aku tidak pernah meninggalkan hal itu sejak beliau mengajarkan kepadaku.” Salah seorang sahabatnya bertanya: ”Sampai pada malam terjadinya perang Shiffin sekalipun?” ’Ali menjawab: ”Ya, sampai pada malam terjadinya perang Shiffin sekalipun.”
Fathimah benar-benar telah merasakan berbagai peristiwa menyedihkan yang susul-menyusul. Di usianya yang masih muda dia sudah harus berpisah dengan ibundanya buat selamanya. Setelah itu wafat pula saudarinya, Ruqayyah. Pada tahun ke-8 Hujriyah saudarinya, Zainab, juga meninggal. Ummu Kultsum, juga meninggal. Di samping itu, dia juga harus rela didera kehidupan yang serba kurang dan berbagai kesusahan lainnya.
Nemun demikian, wanita yang besar dalam didikan Rasulullah ini sama sekali tidak larut dalam kesedihan atau keputus-asaan. Bahkan dia mampu menjadi contoh sebagai wanita yang penyabar, tabah, dan sebagai seorang muhajirah.
Setelah Rasulullah menunaikan ibadah haji Wada’ dan telah selesai tugas beliau dalam meletakkan dasar-dasar Islam serta Allah telah menyempurnakan agama-Nya, beliau jatuh sakit. Ketika Fathimah mendengar hal itu, dia segera bergegas menemui Rasulullah agar merasa tenang. Pada waktu itu Nabi sedang berada di sisi ’Aisyah. Ketika nabi mengetahui kehadiran Fathimah, beliau lagsung menyambutnya dengan senang hati seraya berkata: ”Selamat datang, wahai putriku,” lalu beliau menciumnya dan mendudukkannya di sisi kanan atau kiri beliau. Selanjutnya, beliau membisikkan sesuatu, lalu Fathimah menangis. Saat beliau melihat Fathimah bersedih, beliau membisikkan sesuatu lagi, lantas ia tertawa. Selanjutnya, aku (’Aisyah) bertanya kepadanya: ”Engkau telah diistimewakan oleh Rasulullah daripada istri-istri beliau dengan suatu rahasia, kemudian engkau menangis.” Setelah Rasulullah berdiri, kulanjutkan pertanyaanku kepadanya: ”Sebenarnya apa yang dibisikkan Rasulullah kepadamu?” Dia menjawab: ”Aku tidak mau membocorkan rahasia Rasulullah.”
Setelah Rasulullah wafat, aku berkata lagi kepada Fathimah: ”Aku menyumpahmu demi hakku atas dirimu, tolong beri tahukan kepadaku apa yang dahulu dibisikkan Rasulullah kepadamu.” Ia menjawab: ”Adapun kini, baiklah. Bisikan beliau yang pertama kepadaku bahwa malaikat Jibril biasanya datang kepada beliau untuk menyimak bacaan Al-Qur’an setiap setahun sekali, tetapi pada tahun ini Jibril datang dua kali. Beliau berkata: ’Menurutku, hal ini menunjukkan bahwa ajalku sudah dekat. Oleh karena itu, tetap bertaqwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah! Aku adalah sebaik-baik orang yang meninggal sebelummu.’ Oleh karena itu, aku menangis sebagaimana yang engkau lihat. Ketika melihat aku bersedih, beliau membisikkan aku untuk kedua kalinya: ’Wahai Fathimah, apakah engkau tidak suka menjadi penghulu wanita-wanita penghuni surga dan engkau adalah anggota keluargaku yang pertama menyusulku?’ Aku pun tertawa.’”
Ketika sakit Nabi sudah sangat parah, kesedihan Fathimah pun semakin menjadi. Dengan setia Fathimah selalu mendampingi ayahnya untuk menjaga dan melayani keperluan beliau. Hal itu dilakukannya dengan penuh kesabaran. Akan tetapi, saat melihat ayahnya sangat kepayahan, ia menangis tersedu-sedu dan berkata: ”Aduh, betapa susahnya ayahku!” Beliau menjawab: ”Tidak akan ada lagi kesusahan atas ayahmu setelah hari ini.”
Ketika Nabi telah wafat, ia berkata: ”Wahai ayah, engkau telah memenuhi panggilan Tuhanmu.... Wahai ayah, surga Firdaus adalah tempatmu.... Wahai ayah, kepada Jibril kami beri tahukan kewafatanmu.”
Saat jenazah Rasulullah telah dikuburkan, Fathimah berkata kepada Anas: ”Bagaimanamungkin kalian tega menimbuni jasad Rasulullah dengan tanah?”
Fathimah dan seluruh kaum muslim menangis atas meninggalnya Nabi ibi, namun mereka teringat akan ayat-ayat Allah berikut ini:
”Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul...” (Qs. ’Ali Imran (3): 144)
”Kami tidak pernah menjadikan seorang manusia pun sebelumnya (Muhammad) hidup abadi. Oleh karena itu, jika kamu mati, apakah mereka (orang-orang musyrik itu) akan kekal (di dunia)?” (Qs. Al-Anbiyya’ (21):34)
Tidak lama berselang, kurang lebih 6 bulan sejak wafatnya Rasulullah, Fathimah jatuh sakit. Namun ia gembira, sebab ia telah diberi kabar gembira oleh ayahnya bahwa dia adalah anggota keluarga beliau yang pertama-tama menyusul beliau. Fathimah kembali ke hadirat Allah pada malam Selasa tanggal 3 Ramadhan tahun ke-11 Hijriyah dalam usia 27 tahun.
Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada Az-Zahra’, putri kesayangan sang pemimpin umat manusia, istri ’Ali bin Abu Tholib, ibunda Hasan dan Husain, sang bapak para syuhada’, dan ibunda Zainab, sang pahlawan wanita Karbala’.
Fathimah adalah seorang wanita yang dalam setiap gerak kehidupannya merupakan teladan yang patut ditiru, sebagai figur contoh seorang istri yang shalihah dan sabar dalam menghadapi kesulitan hidup, teladan yang amat baik dalam menjalin hubungan baik dengan tetangga dan kerabatnya, dan sebagai figur ibi teladan alam mendidik putra-putrinnya.
FATHIMAH AZ-ZAHRA’
Betapa mulianya Fathimah
Karena dalam dirinya kemudian terbit dari tiga arah
Putri siapakah dia; istri siapakah dia; dan ibu siapakah dia?
Tidak ada yang lebih mendekati kemuliaan ayahnya selain dirinya
Dia adalah putri kesayangan sang makhluk pilihan dan sang penebar hidayah bagi mereka yang menghendakinya
Ayahnya adalah rahmat bagi seluruh alam
dan idola hidup di dunia
Ayahnya telah membangkitkan jiwa-jiwa yang tertdur lelap
dengan kekuatan spiritualnya
Seolah dia menghidupkan kembali
jiwa-jiwa yang tertidur setelah matinya
dengan memulai sejarah kehidupan baru
layaknya pengantin yang memulai kehidupan barunya
Suami Fathimah
adalah orang yang disinggung dalam surat ”Hal ataa”
Dialah mahkota yang lebih cemerlang
daripada sinar mentari di waktu Dhuha
Dialah sang pemberani yang berkat pertolongan Allah
mampu menyingkirkan segala kebathilan dan kezhaliman
dengan pedangnya
Rumahnya adalah gubug dan harta kekayaannya
adalah pedang yang selalu disandangnya
Namun dalam keluarga Fathimah
tumbuh dua generasi cemerlang hasil didikan dirinya
Yakni kedua anaknya
sang pemimpin para mujahid dan sang perekat persatuan umat
Fathimah adalah figur contoh bagi para ibu
dan teladan dalam segala kemuliaan hidup
Hasanlah yang mengembalikan persatuan umat
setelah sebelumnya mengalami perpecahan
Hasan pernah menyingkir dari kekhalifahan
dan hanya menjadi imam bagi pengikutnya
Sedang Husain termasuk orang-orang yang shalih dan mulia
yang sangat berih dan murah hati tabiatnya.
No comments:
Post a Comment