Wednesday, June 14, 2006
Bukan hanya kelezatan ruhani. Cinta misi juga memberikan kelezatan lain. Kelezatan akal batin. Akal adalah kekuatan yang memberi kita kemampuan memahami. Akal mempross semua informasi yang masuk ke dalam otak kita melalui panca indra atau penalaran. Hasil pemrosesan itulah yang selanjutnya kita sebut pikiran. Tapi dalam diri manusia ada kemampuan akal yang lebih tinggi. Yaitu kemampuan untuk memikirkan pikiran-pikiran yang merupakan buah proses akal. Ini adalah pikiran diatas pikiran. Atau akal kedua. Atau akal batin.
Seperti ketika kita memandang awan dari bumi, ia akan tampak satu lapis gugus awan. Tapi ketika kita naik pesawat, kita akan menemukan bahwa awan itu ternyata adalah gugus berlapis. Kemampuan untuk memikirkan pikiran, baik pikiran kita sendiri atau pikiran orang lain, akan memberi kelezatan yang luar biasa.
Dan kelezatan itulah yang kita rasakan dalam cinta misi. Ini sedikit berbeda dengan kelezatan ruhani. Kelezatan ruhani bersifat vertikal dan terkait dengan perasaanditerima di sini Allah serta janji surga di akhirat. Sedang kelezatan akal batin bersifat horizontal dan terkait dengan kesadaran serta pemahaman yang mendalam tentang dunia batin anak manusia, tentang pergolakan jiwanya dalam mewadahi pertarungan antara sisi baik dan sisi buruknya, tentang peristiwa menang kalah dalam pertarungan itu. Memahami itu semua ibarat menyerap air kehidupan melalui pori-pori akal kita. Kelezatan akal batin terkait dengan perasaan kebermaknaan, perasaan bahwa kita menyelamatkan orang lain, perasaan bahwa sebagai perserta kehidupan di alam raya kita telah ikut berpartisipasi menciptakan kehidupan manusia yang lebih baik, perasaan bahwa kita bermanfaat bagi orang banyak, perasaan bahwa di laut kehidupan yang luas ini kita telah ikut menyumbangkan beberapa tetes air.
Kesadaran itu menyatukan diri kita dengan orang lain di sekeliling kita dan dengan alam yang menyertai kita. Sebab cinta misi lahir untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi manusia. Sebab cinta misi tumbuh untuk membuat bumi jadi sepotong surga yang nyaman dihuni. Kita menyatu sebagai manusia: pada asal usul, pada jalan hidup, pada tujuan akhir. Ini kesatuan kemanusiaan yang membuat space of human entity kita terbentang begitu luas di jagat raya dan di alam batin.
Perasaan itu mengalirkan kelezatan dalam akal batin kita. Seperti kelezatan dalam raga yang kita rasakan saat kita menghirup udara bersih musim semi. Atau angin sepoi di penghujung senja. Kelezatan akal batin itulah terangkum dalam sabda Rasul: "Bahwa Allah membari hidayah kepada seorang manusia melalui usahamu adalah lebih baik bagimu dari seluruh dunia ini dan isinya."
oleh Anis Matta
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment